Mencari...

INFO yang banyak dibaca

Bahagiaku Surga Mereka dan Deritaku Pilu Mereka

visualphotos.com
AdS.info/kaskus.us - Cari-cari inspirasi untuk ngetik artikel di akhir tahun 2011 ini kepala serasa puyenk. Jadi sambil online, saya memutar file-file MP3 saya, kalee ajah saya dapat inspirasi. Ternyata benar, ada satu lagu, tepatnya sebuah puisi yang di-iring-i alunan indah piano "Bunda",  buah karya Melly Goeslaw. File MP3-nya berjudul "puisi untuk kadek." Puisi seorang anak kepada orang tua, papa dan mamanya. Kata-kata dalam puisi itu begitu dalem, dan indah. Jika didengar baik, puisi itu akan membuat kita menangis. Saya pun mencoba googling untuk mencari teks dari 'puisi untuk kadek' itu, tidak banyak memang yang mengetik teks puisi itu dan di-publish di internet, yang banyak hanyalah file MP3nya. Akan tetapi akirnya saya bisa menemukannya di laman forum kaskus, teksnya di-posting oleh seseorang ber-ID 'harvestgoddest' pada tanggal 5 Januari 2011 yang lalu. Nah.. berikut file MP3 dan juga teks dari 'puisi untuk kadek.'

Bahagiaku Surga Mereka dan Deritaku Pilu Mereka
Karya: Feby


Aku berdiri mengenakan toga ini di sebuah jalan setapak yang gelap.
Pandanganku tertuju pada dua orang di kejauhan sana,
dengan senyuman yang tak asing di mataku.

Dua orang yang sangat aku hargai,
dua orang yang sangat aku hormati, aku cintai, dan aku sayangi.
Iya.... Mereka papa dan mama ku

Dengan disertai senyuman aku berjalan menghampiri mereka
seiring dengan langkah, terlintas di benakku, 
atas apa yang telah mereka lakukan terhadap hidupku selama ini.

Mama, yang telah mengandungku selama sembilan bulan.
Mama yang sudah memperjuangkan hidup dan matinya hingga aku dapat hadir di dunia ini.
Mama juga yang telah merawatku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Papa yang telah mendidikku.
Papa yang rela bekerja banting tulang, 
ikhlas mengeluarkan keringatnya agar aku dapat menikmati hidup,
detik demi detik, hari demi hari, bahkan tahun demi tahun.

Apakah yang dapat kulakukan untuk membalas mereka?
Sering aku tutup kuping ga mau dengerin nasihat mereka.
Sering banget aku bohong kepada mereka untuk kepuasanku.
Sering aku ngelawan jika mereka marah karena kenakalanku.
Sering juga aku banting pintu di hadapan mereka jika mereka tidak mengabulkan permintaanku, 
dan bahkan sering aku mengeluarkan kata kata kasar, 
yang ga pantas mereka dengar dari bibirku.
“dasar cerewet, kuno, kolot!”

Tapi, apakah mereka memendam perasaan dendam terhadapku?
TIDAK! TIDAK SAMA SEKALI!

Mereka dapat tulus memaafkan kekhilafanku.
Mereka tetap menyanyangiku dalam setiap hembusan nafas mereka.
Bahkan mereka tetap menyebut namaku dalam setiap doa-doa mereka 
hingga aku menjadi seperti sekarang ini!

Ya Tuhan betapa durhakanya aku!
Tak sadarkah aku bahwa mereka orang yang sangat berarti dalam hidupku?

Langkah-langkah ku terhenti di hadapan mereka.
Dan kupandangi papa dan mamaku inci demi inci.

Badan yang dulu tegap, kekar, kini mulai membungkuk.
Rambut yang dulu hitam, kini mulai memutih.
Dan kulit mereka yang dulu kencang kini mulai berkeriput

kutatap mata mereka yang berbinar binar dan mulai meneteskan air mata bahagia,
air mata haru, air mata bangga melihat ku memakai toga ini.

Kucium tangan mereka, kupeluk mereka sambil berkata
“papa, mama, yang aku berikan hari ini tidak akan cukup membalas semua yang telah papa dan mama berikan selama ini kepadaku. terimakasih pa, terimakasi ma, aku sayang papa dan mama sampai akhir hayatku.”
_____________

Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (Kitab Keluaran pasal 20, ayat 12)

AdS.info 2011

3 Komentar:

  1. Terharu dengan puisinya. Kita bukan apa-apa tanpa doa dan kasih orang tua.. ;-(

    ReplyDelete
  2. Anonymous24 July, 2013

    sediiiiiih banget hiks hiks ;((

    ReplyDelete