Mencari...

INFO yang banyak dibaca

Sawah apung, mengubah bencana menjadi barokah

12:39 PM

Sawah apung, "mengubah bencana menjadi barokah." Demikian yang diungkapkan oleh Tahmo Cahyono dalam mata acara Pelangi Nusantara produksi TVRI stasiun Jawa Barat (Jumat, 10/05/2013). Adalah sebuah sawah apung yang dibangun di Kecamatan Padaherang Kabupaten Ciamis, karena daerah tersebut mengalami yang namanya banjir abadi, karena selalu terendam banjir untuk jangka waktu hingga berbulan lamanya. Bencana tersebut sangat merugikan warga setempat karena berhektar-hektar sawah mereka rusak karena banjir abadi, bahkan banyak warga yang akhirnya menjadi buruh kasar dan merantau ke berbagai wilayan di Indonesia sebagai buruh kasar untuk menopang perekonomian keluarga.
 "Kita tidak mungkin melawan alam, tapi kita beradaptasi dengan alam." - Tahmo Cahyono
Sawah apung merupakan teknologi pertanian yang baru di Indonesia, dibuat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,  ide pembuatan sawah apung ini dimulai oleh Taruna Tani Mekar Bayu yang bekerjasama dengan Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI), juga dengan sebuah LSM dari Jerman, untuk pembiayaan selama tiga tahun proses membangun teknologi sawah apung tersebut.

"Awalnya banyak masyarakat yang meragukan terobosan sawah apung, akan tetapi dengan bukti panen perdana sawah apung beberapa waktu lalu, terus terang menggugah kami untuk mengembangkan atau memeperluas sawah apung. Selain produksinya lumayan banyak, keunggulan lainnya setiap tahun petani bisa menanam padi. Beda dengan kondisi saat ini dalam satu tahun mungkin hanya sekali panen, setelah lima hingga enam kali tanam," tutur Camat Padaherang, Kabupaten Ciamis Dede Saeful Uyun kepada pikiran-rakyat.com.

Dia mengatakan bagi warga padaherang dan sekitarnya menanam padi dengan cara sawah apung merupakan teknologi baru. Sebab selama ini petani tidak memanfaatkan persawahannya yang terendam banjir. "Padahal kejadian tersebut terus berulang setiap tahun, akan tetapi petani seolah menyerah begitu saja dengan keadaan. Syukur alhamdulillah akhirnya Taruna Tani Mekar Bayu Desa Ciganjeng membat terobosan baru, membuat sawah apung," katanya.

Dede Saeful Uyun menambahkan selain sawah apung, petani masih bisa menambah penghasilan dengan menebar ikan di persawahannya. Hanya saja, ia menambahkan salah satu tantangan yang masih perlu diatasi adalah mengubah pola pikir petani. Dari yang semula menjadi petani konvensional menjadi petani sawah apung dengan mina ikan.

Perlakuan atau pemeliharaan sawah apung tidak jauh berbeda dengan sawah konvensional atau yang ditanam di atas tanah. Sawah apung pertama yang dikelola oleh kelompok tersebut hanya seluas seratus bata. Yang membedakan dengan sawah konvensioanal atau di atas tanah adalah hanya media tanamnya. Sawah apung di tanam di atas rakit yang diberi sabut kelapa, jerami serta tanah. Rakit berfungsi agar sawah menjadi terapung, sehingga tidak terpengaruh oleh ketinggian banjir. Perbedaan lainnya pada saat panen, tanaman padi yang baru disabit tidak bisa langsung dirontokkan di tempat tersebut, akan tetapi harus dibawa ke darat.

Bangsa kita Indonesia memang mempunyai banyak sekali potensi untuk dikembangkan. Dengan Sawah apung, mengubah bencana menjadi barokah ini kita bisa melihat bahwa daerah bencanapun jika kita sikapi dengan bijak akan memberikan keuntungan bagi kita. Jangan pasrah dan terpuruk dengan keadaan. Sebuah kalimat inspiratif dari bapak Tahmo Cahyono yang saya simak di acara  Pelangi Nusantara produksi TVRI stasiun Jawa Barat tersebut adalah, "Kita tidak mungkin melawan alam, tapi kita beradaptasi dengan alam."  (iGrafen)

*Sumber dan foto:  pikiran-rakyat.com 

Produksi adadisini.info 2013

0 Komentar:

Post a Comment