Skip to main content

Kisah pilu istri tertular HIV dari suami sendiri

Hari ini, ketika saya membaca-baca berita, ada satu berita di antaranews.com yang memilukan hati. Sebuah ironi ketika seorang bayi berusia sembilan bulan harus meninggal dunia karena mengidap Human Immunodeficiency Virus atau HIV. Bagaimana bisa bayi usia sembilan bulan bisa terjangkit virus ini? Apakah bawaan dari sang ibu? Benar, bayi tersebut mengidap HIV karena ibunya juga HIV positif.

Hartini, itulah nama ibu dari bayi malang tersebut. Hartini merupakan seorang ibu muda biasa yang harus berjuang melawan kerasnya hidup. Pernikahan yang sering gagal, mengantar Hartini untuk beberapa kali menikah dan tanpa sadar membawa dia kepada suami yang positif HIV dan pada akhirnya juga menjangkitinya dengan HIV. Awalnya Hartini tidak tahu kalau dia sudah terjangkiti HIV. Hal tersebut dikarenakan pada saat dokter mendiagnosis bayinya meninggal karena HIV, suaminya meyakinkan Hartini bahwa diagnosis terhadap anak mereka adalah salah dan tidak mungkin ada virus tersebut pada tubuh anak, istri dan dia. 

Kebenaran tidak dapat ditutupi, beberapa waktu kemudian daya tahan tubuh Hartini menurun drastis hingga kadar sel CD4-nya hanya tertera pada angka 7 padahal dalam kondisi daya tahan tubuh normal angka itu harusnya mencapai 1.500. Hal tersebut membuat berat badan perempuan berhijab itu turun hingga 36 kilogram, namun untuk menopang berat badannya saat itu, kaki-kaki Hartini lemah dan nafasnya tersengal. Bingung dengan kondisinya, ia lalu memeriksakan diri ke dokter dan akhirnya dinyatakan teridentifikasi HIV positif.

Perilaku buruk dari segelintir pria baik yang sudah menikah pun yang masih lajang yang suka melakukan seks bebas dengan bergantian pasangan menjadi penyebab utama semakin berkembangnya HIV di Indonesia.  Ada juga kasus di kalangan pengguna narkoba yang suka bergantian alat suntik dan anak-anak jalanan yang melakukan seks bebas.

Jumlah kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dalam satu dekade terakhir secara umum meningkat. Peningkatan ini sejalan dengan makin banyaknya masyarakat yang sadar dan melakukan tes HIV.

Menurut data Kemenkes, sejak tahun 2005 sampai September 2015, terdapat kasus HIV sebanyak 184.929 yang didapat dari laporan layanan konseling dan tes HIV. Jumlah kasus HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (38.464 kasus), diikuti Jawa Timur (24.104kasus), Papua (20.147 kasus), Jawa Barat (17.075 kasus) dan Jawa Tengah (12.267 kasus). Kasus HIV Juli-September 2015 sejumlah 6.779 kasus. Faktor risiko penularan HIV tertinggi adalah hubungan seks tidak aman pada heteroseksual (46,2 persen) penggunaan jarum suntik tidak steril pada Penasun (3,4 persen), dan LSL (Lelaki sesama Lelaki) (24,4 persen).

Sementara, kasus AIDS sampai September 2015 sejumlah 68.917 kasus. Berdasarkan kelompok umur, persentase kasus AIDS tahun 2015 didapatkan tertinggi pada usia 20-29 tahun(32,0 persen), 30-39 tahun (29,4 persen), 40-49 tahun (11,8 persen), 50-59 tahun (3,9 persen) kemudian 15-19 tahun (3 persen).

Kasus AIDS di Indonesia ditemukan pertama kali pada tahun 1987. Sampai September 2015, kasus AIDS tersebar di 381 (77 persen) dari 498 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Wilayah pertama kali ditemukan adanya kasus AIDS adalah Provinsi Bali. Sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2011.

Lantas apa solusi kita untuk memberantas virus mematikan ini? Apa yang harus dilakukan supaya cerita Hartini tidak lagi bertambah? Peran keluarga sebagai lembaga terkecil yang akan membentuk tatanan sosial negara dan dunia di situlah kita mulai. Yang sudah terjadi kita tidak dapat menolaknya, kita rangkul mereka dan bantu mereka menikmati/menjalani sisa hidup mereka yang mungkin lebih singkat daripada kita yang tidak terjangkiti HIV/AIDS.

Kita bangun generasi yang lebih baik ke dapan. Sudah terlalu banyak program yang dilakukan, namun korban terus berjatuhan. Lima kata dari saya untuk menghentikan HIV di Indonesia dan duina: STOP SEKS BEBAS! STOP NARKOBA!

*Sumber: antaranews.com | metrotvnews.com

Comments

Popular posts from this blog

Kamen Rider (21 Jenis Kamen Rider 1971 - 2010)

Manado - Dengan halaman blog membuatsaya bisa ngepost apa saja yang saya inginkan (sesuai norma, dan tidak mengandung unsur SARA tentunya) hari ini, entah kenapa tiba-tiba saya teringat dengan salah satu serial kesukaan saya waktu masih SMP, yaitu serial "Satria Baja Hitam" atau nama aslinya "Kamen Rider Black". Berjalannya waktu, saya tidak lagi mengikuti perkembangan serial ini. Sampai hari ini saya baru tau kalo seri Kamen Rider sudah ada sejak tahun 1971. aduch qt blum lahir itu ..... 
Berterima kasih kepada wikipedia dan google, akhirnya saya bisa mengenal  ke-20 Kamen Rider dari episode pertama di tahun 1971, sampai episode di tahun 2009, dan yang terbaru Kamen Rider ke-21 yaitu "Kamen Rider OOO" 2010. Well...berikut saya sajikan ke-21 Kamen Rider yang saya kumpulkan dari pencarian di google images... selamat berkenalan ....

Gillette, pisau cukur terbaik di dunia!

AdS-info - Janggut atau kumis sudah pasti dimiliki oleh setiap pria di muka bumi ini. Adalah hormon testosteron yang menjadi penyebab dari semuanya itu. Akan tetapi tidak semua pria berjanggut, tapi semua pria pasti berkumis, itu karena alasan ras di mana pria itu terlahir, demikianlah Tuhan menciptakan laki-laki. Misalnya pria Timur Tengah, Amerika, dan Eropa pasti memiliki janggut yang lebih lebat, ketimbang pria Asia dan Oseania. Juga tidak semua pria yang mau 'memelihara' janggut dan kumisnya. Itulah sebabnya kita mengenal yang namanya pisau cukur. Sedikit perkenalan tentang apa itu pisau cukur, berikut saya kutip dari Wikipedia: Pisau cukur atau silet adalah benda tajam berupa lempengan baja kecil dan tipis, biasanya bermata dua. Kata "silet" berasal dari nama dagang produk Gillette, yaitu nama belakang dari King Camp Gillette, pengusaha dari AS yang mencetuskan sistem pisau cukur sekali buang. Ia memulai praktik menjual alat cukur dengan murah kemudian mengambi…

Aniong Mama (Video dan lirik)

Courtesy: Youtube.com
Lirik :